Titik Temu dan Seteru Islam dengan Sosialisma

Pada pertengahan abad ke-20, dunia seakan terbelah menjadi dua kekuatan raksasa yang saling berebut pengaruh. Di satu sisi berdiri kapitalisma yang telah lama mencengkeram negara-negara industrial, dan di sisi lain muncul Sosialisma-Marxisma yang menawarkan janji surga dunia bagi kaum tertindas.

Jusuf Wibisono, dalam bukunya yang berjudul Islam dan Sosialisme, memotret fenomena ini dengan jernih. Ia menyadari bahwa daya tarik sosialisma bagi bangsa-bangsa terjajah sangatlah kuat. Sosialisma, khususnya Marxisma, datang dengan narasi ilmiah yang meramalkan keruntuhan kapitalisma. Janji akan masyarakat yang sama rasa sama rata tentu menggoda mereka yang selama berabad-abad hidup dalam kemelaratan struktural. Namun, di balik pesona jargon keadilan sosial tersebut, tersimpan jurang perbedaan falsafah yang kerap luput dari pandangan mata awam.

Kabut Definisi Sosialisma

Membicarakan sosialisma tanpa definisi yang presisi sering kali menjebak kita dalam kesalahpahaman. Istilah ini telah dipakai secara serampangan, mulai dari cita-cita luhur para nabi hingga eksperimen sosial kaum utopis. Ada sosialisma khayali (utopian socialism) ala Saint Simon dan Robert Owen yang percaya dunia bisa berubah lewat imbauan moral kepada orang kaya. Ada pula sosialisma religius yang mencoba menggali nilai keadilan dari kitab suci.

Namun, ketika dunia politik berbicara tentang sosialisma di era modern, yang dimaksud hampir selalu adalah Sosialisma Ilmiah (Scientific Socialism) atau Marxisma. Inilah varian yang dikembangkan Karl Marx dan Friedrich Engels, yang kemudian menjelma menjadi kekuatan politik nyata melalui Komunisma di Uni Soviet. Marxisma mengklaim bukan sekadar angan-angan, melainkan sebuah kepastian sejarah yang disusun berdasarkan hukum-hukum ekonomika dan sosiologi. Varian inilah yang menjadi tantangan terbesar bagi pemikiran Islam, karena ia membawa paket lengkap: sebuah sistem ekonomik sekaligus pandangan hidup (weltanschauung) yang menyeluruh.

Pertemuan di Persimpangan

Harus diakui, terdapat irisan tebal antara cita-cita Islam dan semangat awal sosialisma. Karl Marx mendedikasikan hidupnya untuk membela kaum proletar yang diperas habis-habisan oleh pemilik modal di Eropa Barat. Semangat pembelaan terhadap kaum lemah (mustadh’afin) ini senapas dengan ajaran Islam. Sejarah hidup Marx yang rela menderita demi keyakinannya membela kaum buruh bahkan memiliki kualitas ketulusan yang mengagumkan, yang oleh sebagian sarjana disebut mendekati sifat kenabian.

Islam, jauh sebelum Marx lahir, telah meletakkan fondasi keadilan sosial yang kokoh. Al-Qur’an secara eksplisit memerintahkan pembebasan budak, memberi makan anak yatim, dan menolong orang miskin yang telantar di atas debu. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda agar upah buruh dibayarkan sebelum keringatnya kering.

Titik temu yang paling mencolok terlihat pada kritik terhadap mekanisma ekonomik kapitalis. Marx merumuskan Teori Nilai Lebih (Meerwaarde Theorie), yang menjelaskan bahwa keuntungan kapitalis diperoleh dari keringat buruh yang tidak dibayar penuh. Buruh bekerja menghasilkan nilai sekian, tetapi hanya dibayar sebagian kecilnya, sedangkan sisanya dirampas oleh pemilik modal. Dalam kacamata Islam, praktik pengambilan keuntungan yang eksploitatif dan tanpa belas kasihan ini memiliki sifat yang paralel dengan riba. Keduanya sama-sama memangsa pihak yang lemah demi akumulasi kekayaan.

Bahkan, tokoh pergerakan seperti H.O.S. Tjokroaminoto pernah melontarkan istilah “kapitalisma yang berdosa” (zondig kapitalisme) untuk melawan sistem ekonomik asing yang menindas. Hal ini menyiratkan bahwa Islam memusuhi watak kapitalisma yang rücksichtlos (tidak mengenal batas moral dan kemanusiaan).

Benturan Falsafah

Namun, persamaan dalam semangat keadilan sosial tidak serta-merta menyatukan Islam dan Marxisma. Justru di sinilah letak bahaya penyederhanaan. Marxisma bukan sekadar teori ekonomik; ia dibangun di atas fondasi filsafat Materialisma Historis (Historisch Materialisme).

Teori ini mengajarkan bahwa seluruh aspek kehidupan manusia—mulai dari hukum, politik, kesenian, hingga agama—hanyalah produk sampingan (superstruktur) dari keadaan ekonomik (basis materi). Bagi Marx, materi adalah penentu segalanya. Benda menciptakan roh, bukan sebaliknya. Dalam pandangan ini, agama dianggap sebagai ilusi atau “candu bagi rakyat” yang diciptakan manusia untuk menahan penderitaan hidup, sekaligus alat kelas penguasa untuk meninabobokan kaum tertindas.

Pandangan ini bertabrakan secara frontal dengan akidah Islam. Islam berpijak pada Tauhid, keyakinan mutlak kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai Pencipta dan asal-usul segala sesuatu. Wahyu Tuhan adalah kebenaran yang datang dari atas, bukan produk budaya yang lahir dari kondisi perut atau ekonomi masyarakat Arab abad ke-7 semata. Menerima Materialisma Historis berarti mengingkari eksistensi Tuhan dan wahyu. Oleh karena itu, upaya sebagian kalangan untuk menggabungkan Islam dan Materialisma (seperti dalam konsep Madilog Tan Malaka yang dikritik Jusuf Wibisono karena sulit dicari hubungannya dengan Islam) adalah sebuah kontradiksi.

Perang Kelas atau Penegakan Keadilan?

Perbedaan lainnya terletak pada cara memandang dinamika masyarakat. Bagi Marx, sejarah manusia adalah sejarah pertentangan kelas (class struggle). Kemajuan sejarah hanya bisa dicapai melalui konflik abadi antara penindas dan tertindas yang berujung pada revolusi kekerasan. Tujuan akhirnya adalah masyarakat tanpa kelas yang di dalamnya negara tidak lagi diperlukan.

Islam memang memihak kaum lemah dan menuntut perubahan nasib (sebagaimana ayat “Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum…”), tetapi Islam menolak konsep pertentangan kelas yang didasarkan pada kebencian dan perebutan kekuasaan semata (machtstrijd). Islam tidak memandang orang kaya atau pemilik modal sebagai musuh abadi yang harus dimusnahkan, melainkan sebagai saudara yang memiliki kewajiban sosial (zakat, sedekah).

Islam mengakui adanya perbedaan derajat (kaya-miskin, pemimpin-rakyat) sebagai hukum alam (sunnatullah) yang menciptakan harmoni dan saling ketergantungan, bukan sebagai anomali yang harus dihapus. Perjuangan dalam Islam adalah penegakan keadilan (rechtstrijd) yang terikat kuat oleh etika dan moral. Sebaliknya, dalam doktrin Leninisma, moralitas dianggap sebagai produk borjuis. Segala cara—termasuk dusta, tipu muslihat, dan kekerasan—dianggap sah dan bermoral selama itu mempercepat revolusi. Standar etika ganda seperti ini tertolak mentah-mentah dalam Islam yang menjunjung tinggi kejujuran dan akhlak mulia.

Realitas Ekonomik

Ujian paling nyata dari utopia sosialisma terlihat pada pengaturan hak milik. Komunisma pada awalnya berambisi menghapuskan hak milik pribadi dan hak waris karena dianggap sebagai sumber ketimpangan. Namun, sejarah membuktikan bahwa gagasan ini melawan fitrah manusia.

Islam mengambil jalan tengah yang realistis. Hak milik perseorangan diakui dan dilindungi, tetapi tidak dibiarkan liar tanpa kendali sosial. Harta tidak boleh hanya berputar di kalangan orang kaya saja; menumpuk harta tanpa dibelanjakan di jalan Allah diancam dengan siksa yang pedih.

Terkait hak waris, Al-Qur’an telah mengatur pembagiannya secara rinci. Upaya penghapusan hak waris oleh rezim komunis Soviet pada akhirnya menemui kegagalan. Manusia secara naluriah bekerja keras demi kesejahteraan keturunannya. Jika hak untuk mewariskan dihapus, semangat bekerja dan berinovasi akan mati. Uni Soviet sendiri akhirnya terpaksa merevisi konstitusinya pada tahun 1936 dan mengakui kembali hak waris, sebuah pengakuan diam-diam bahwa prinsip sosialisma radikal tidak sejalan dengan tabiat manusia.

Menelusuri pemikiran Jusuf Wibisono, kita sampai pada simpulan yang tidak ambigu. Islam dan Sosialisma (Marxisma/Komunisma) mungkin bertemu di halaman depan—sama-sama meneriakkan antikapitalisma dan antiimperialisma. Namun, begitu masuk ke dalam rumah, keduanya menghuni bangunan yang sama sekali berbeda.

Seseorang tidak mungkin menjadi muslim yang kafah sekaligus penganut Marxisma yang setia. Menerima satu berarti menolak yang lain. Keyakinan Marxis menuntut penolakan terhadap Tuhan (“agama adalah candu”), sedangkan Islam menuntut penyerahan diri total kepada Tuhan. Fenomena tokoh-tokoh yang mengaku menggabungkan keduanya sering kali lahir dari ketidaktahuan mendalam akan asas-asas filosofis Marxisma, atau sekadar taktik politik sesaat.

Pada akhirnya, Islam menawarkan jalannya sendiri menuju keadilan sosial: sebuah jalan yang tidak menghalalkan segala cara, tidak mengingkari fitrah kepemilikan manusia, dan yang terpenting, tidak menceraikan kehidupan dunia dari pengawasan Ilahi.