Membedah Anatomi Riya

Pernahkah kita merasa ada kepuasan ganjil yang menyusup ke rongga dada saat seseorang memuji ibadah kita? Diakui sebagai sosok yang saleh, dermawan, atau rajin berpuasa memang memberikan efek mabuk yang membuai ego. Secara naluriah, manusia haus akan validasi. Namun, ketika kehausan itu merembes masuk ke wilayah sakral bernama ibadah, kita sedang berhadapan dengan parasit paling mematikan dalam tradisi spiritual Islam: riya.

Dalam karya monumentalnya, Ihya ‘Ulumuddin, Imam Abu Hamid al-Ghazali tidak sekadar menghukumi riya sebagai dosa. Beliau membedahnya layaknya seorang pakar bedah yang menguliti lapisan tumor di pusat kesadaran manusia. Al-Ghazali tahu betul bahwa riya jarang datang dengan wajah yang beringas. Ia merayap dengan sangat senyap. Beliau mengutip perumpamaan klasik yang sangat masyhur, bahwa riya di dalam hati manusia lebih samar daripada merayapnya seekor semut hitam, di atas batu yang hitam pekat, di tengah malam yang gelap gulita.

Banyak dari kita mengira riya hanyalah perkara pamer sedekah di depan umum. Padahal, dalam pembedahan al-Ghazali, anatomi riya memiliki tingkatan (darajat) yang berlapis-lapis, dan bagian yang paling dalam justru sering kali menjangkiti orang-orang yang merasa dirinya paling suci.

Lapis pertama adalah yang paling kasar, atau riya jali (terang-terangan). Seseorang baru tergerak mengangkat takbir atau merogoh kantong untuk sedekah hanya ketika ada pasang mata yang mengawasi. Saat sendirian di kamar dan sepi dari audiens, ia dengan enteng meninggalkan salat tanpa beban. Ibadahnya murni transaksi untuk membeli pandangan manusia.

Masuk ke lapis kedua, riya khafi (tersembunyi). Di tahap ini, niat asalnya sudah benar. Seseorang sedang salat sendirian di tengah malam murni karena Allah. Namun, tiba-tiba terdengar derit pintu dan seseorang masuk ke ruangannya. Mendadak, bacaannya dihiasi dengan tajwid yang lebih fasih, suaranya dibuat lebih serak menahan haru, dan rukuknya diperlama. Ia tidak bermaksud pamer dari awal, tetapi hatinya meraup secercah kenikmatan dari fakta bahwa ada manusia yang sedang menyaksikan kesalehannya. Ibadahnya yang semula disetir oleh keikhlasan, seketika dibajak oleh hasrat untuk diapresiasi.

Namun, kengerian sesungguhnya ada pada lapis ketiga: riya akhfa (sangat samar). Al-Ghazali memberikan ilustrasi psikologis yang menohok akal sehat para ahli ibadah.

Bayangkan seseorang yang beribadah dalam senyap. Ia salat malam dalam gelap, berpuasa tanpa ada anggota keluarga yang tahu, dan bersedekah tanpa nama. Ia merasa sudah merdeka dari riya. Lalu, siang harinya ia pergi ke pasar untuk berbelanja. Ketika berinteraksi dengan pedagang atau masyarakat awam, entah mengapa ia merasa berhak mendapatkan perlakuan istimewa. Jika ia menyapa dan tidak dibalas dengan hormat, atau jika transaksinya tidak diberi potongan harga, amarahnya meledak di dalam dada. Ia membatin, “Berani sekali orang awam ini bersikap kasar kepadaku, padahal aku menghidupkan malam dengan munajat sementara ia tertidur pulas!”

Menurut al-Ghazali, kemarahan dan tuntutan untuk diistimewakan itu adalah bukti tak terbantahkan bahwa riya masih berakar kuat. Jika ia benar-benar beramal hanya karena Allah, ia akan melihat dirinya setara atau bahkan lebih hina dari orang lain. Ia tidak akan diam-diam menuntut kompensasi sosial atas ibadah rahasianya.

Bahkan, ada satu jebakan psikologis terbalik yang sangat rumit diulas dalam Ihya. Ada orang yang saking takutnya dituduh riya oleh masyarakat, ia akhirnya sengaja berpakaian kumal, bersikap urakan, atau sengaja meninggalkan sunah di depan umum. Tujuannya agar orang menganggapnya preman atau orang awam, sehingga ia selamat dari pujian.

Al-Ghazali dengan telak membongkar bahwa ini pun adalah sebentuk riya yang bermetamorfosis. Mengapa? Karena poros pikiran orang tersebut masih saja berkutat pada bagaimana mengontrol penilaian manusia. Orang yang murni ikhlas tidak akan memusingkan apakah manusia memujinya atau mencelanya. Ia bersikap wajar saja. Dalam bab ini, Al-Ghazali mengutip perkataan emas ulama sufi, Fudhail bin ‘Iyadh: “Beramal demi manusia adalah kesyirikan, meninggalkan amal karena manusia adalah riya. Dan ikhlas adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya.”

Lalu, apa resep penyembuhan dari penyakit yang begitu menipu ini? Al-Ghazali dan para ulama tasawuf menyarankan sebuah latihan batin yang radikal bagi kita yang masih pemula: kubur rapat-rapat amal kebaikanmu.

Dalam tradisi orang-orang saleh terdahulu (salafus saleh), terdapat sebuah maklumat yang dijaga dengan sangat ketat: “Sembunyikanlah amal kebaikanmu, persis sebagaimana engkau bersusah payah menyembunyikan aib dan dosa-dosamu.”

Dalam kitab Ihya, Al-Ghazali mencontohkan betapa ekstremnya para ulama terdahulu menjaga rahasia ibadah mereka. Ada seorang tokoh yang ketika sedang menangis tersedu-sedu dalam zikirnya dan tiba-tiba ada tamu yang datang, ia segera mengusap wajahnya dan mengeluh, “Aduh, flu ini sungguh membuat mataku berair keras.” Ia rela memfitnah dirinya sendiri sedang sakit, demi menyelamatkan air matanya agar tidak disangka sebagai tangisan khusyuk.

Ada pula kisah seorang suami yang berpuasa sunah selama dua puluh tahun tanpa diketahui oleh istrinya sendiri. Saat pagi ia membawa bekal dari rumah, dan di tengah jalan bekal itu ia berikan kepada pengemis. Saat magrib tiba dan ia pulang, ia ikut makan malam bersama keluarganya. Istrinya mengira ia memakan bekalnya di siang hari, sementara orang di luar mengira ia makan di rumah. Mereka melakukan itu bukan karena membenci interaksi sosial, melainkan karena sadar betapa rapuhnya hati manusia jika telanjur tersentuh oleh lezatnya pujian.

Melihat betapa kerasnya orang-orang saleh terdahulu menyembunyikan amal, sebuah pertanyaan logis dan sedikit protes mungkin mulai mengusik benak kita: “Lantas, bagaimana jika saya menampakkan ibadah atau sedekah itu murni dengan niat untuk memotivasi orang lain? Bukankah agama juga menyuruh kita menjadi teladan yang baik?”

Imam al-Ghazali rupanya sudah memprediksi dilema ini ribuan tahun lalu. Beliau menyetujui bahwa menampakkan amal, khususnya amal fardu seperti salat wajib atau zakat, adalah sebuah keharusan demi syiar agama. Begitu pula menampakkan amal sunah untuk memotivasi orang lain, hal itu memang diperbolehkan secara syariat.

Namun, sang Hujjatul Islam memberikan peringatan yang menohok. Alasan ingin memotivasi adalah salah satu pintu masuk setan yang paling halus. Dalih menginspirasi itu sejatinya hanya aman bagi mereka yang hatinya sudah kebal. Yakni mereka yang jiwanya tak lagi mekar oleh derai pujian, dan tak pula menyusut oleh caci maki.

Bagi kita yang hatinya masih amat rentan, yang masih mudah berdebar menanti berapa banyak orang yang menyukai atau memuji unggahan kita di dunia maya, niat tersebut sering kali hanyalah alibi rapi yang menutupi dahaga ego. Cara mengujinya sangat sederhana, jika kita memublikasikan suatu kebaikan dan ternyata tidak ada satu pun orang yang merespons atau memedulikannya, apakah ada secercah rasa kecewa di dada? Jika jawabannya iya, itu adalah alarm keras bahwa jangkar niat kita belum sepenuhnya berlabuh pada Tuhan.

Pada akhirnya, peperangan melawan riya adalah jalan sunyi seumur hidup. Ia menuntut kita untuk menahan gatalnya lisan dan jari untuk tidak menceritakan kedekatan kita dengan Tuhan. Sebab, apresiasi jutaan pasang mata di dunia ini tak akan sudi memperpanjang umur kita, dan cemoohan mereka tak akan mampu mempercepat ajal kita. Keikhlasan sejati baru akan mekar ketika kita merasa cukup, benar-benar cukup, bahwa Sang Pemilik Nyawa sedang menatap kita, meskipun seluruh penduduk bumi memalingkan wajahnya.